Rabu, 20 Juni 2012

jurnal metakognisi dianan


Peningkatan Kualitas Pembelajaran Melalui Lesson Study Berbasis Metakognisi
125
PENINGKATAN KUALITAS PEMBELAJARAN
MELALUI LESSON STUDY BERBASIS METAKOGNISI
Akhsanul In am
Abstract
Teacher is themost important factor in teachinglearningprocessand is thehuman
factor that much influences the success of it. Improvingteachinglearningquality
depends on the professionalism, strategy and approach used by the teacher. The
objectiveof thispaper istodescribethequalityof strategyinimprovinglearningby
usinglesson studyandmetacognition. Lesson studyisdesignedtoempower teachers
professionalism by evaluating teaching process collaboratively and simultaneously
based on legality principal and mutual learningto empower learningcommunity.
Meanwhile, metacognition is the leaning how to learn so that the collaboration
strategy can be carried out by using three activities. The first is planningwhich
includes decidingobjectiveand analyzingassignment toget target knowledge. The
secondisimplementingteachinglearningprocesstoincreasestudentsself understanding
sothat it can motivatethemtounderstand thelesson and correlatetheknowledge
they have. The third is evaluatingwhich refers to the effort to improve student s
cognitive activity. It can help the students to improve their achievement by evaluating
their attitude in finishing their assignment.
PENDAHULUAN
Guru adalah faktor yang sangat penting dalam proses belajar mengajar dan
unsur manusiawi yang sangat menentukan keberhasilan pendidikan. Peningkatan
kualitas pembelajaran tergantung kepada profesionalisme guru, strategi dan
pendekatan yang digunakannya. Banyak pendekatan dan model pembelajaran
yang telah diuji cobakan dan dihasilkan dengan tujuan untuk meningkatkan
kualitas pembelajaran. Demikian juga kegiatan lesson study telah diujicobakan di
41 negara dan hasil yang diperoleh adalah dapat meningkatkan kualitas
pembelajaran (Sumar, 2006), karena lesson study merupakan model pembinaan
profesi pendidik melalui pengkajian pembelajaran secara kolaboratif dan
berkelanjutan berlandaskan prinsip-prinsip kolegalitas dan mutual learning untuk
membangun komunitas belajar.
Sedangkan metakognisi adalah suatu pendekatan pembelajaran yang
mengedepankan penyadaran diri terhadap materi pelajaran apakah mengerti
Volume 12 Nomor 1 Januari - Juni 2009
126
ataukah belum terhadap materi pelajaran yang sedang dipelajari, sehingga
kolaborasi keduanya diperoleh suatu pelaksanaan pembelajaran yang terdiri
dari tiga tahap kegiatan. Pertama perencanaan yang meliputi penentuan tujuan,
analisis tugas untuk memperoleh pengetahuan yang sesuai, kedua implementasi
pembelajaran denganmenyadarkan siswa terhadap apa yang dipelajari sehingga
dapat membantu siswa memahami pelajaran dan mengkaitkan dengan
pengetahuan yang dimiliki dan disinilah pendekatan metakognisi berperan dalam
pelaksanaan pembelajaran dan ketiga evaluasi adalah usaha untuk memperbaiki
aktivitas kognitif siswa, yang dapat membantu siswa untuk meningkatkan
prestasi dengan cara mengawal dan melihat kembali perilakunya dalam
menyelesaikan tugas.
LESSON STUDY
Lesson study berasal dari kata jugyokenkyu (Jepang). Jugyo berarti lesson atau
pembelajaran dan kenkyu berarti study atau pengkajian, sehingga secara arti
kata bermakna kegiatan pengkajian terhadap suatu pembelajaran (Sumar, 2006).
Lesson Study adalah model pembinaan profesi pendidik melalui pengkajian
pembelajaran secara kolaboratif dan berkelanjutan berlandaskan prinsip-prinsip
kolegalitas dan mutual learning untuk membangun komunitas belajar, suatu
kegiatan pengembangan profesional guru yang memberi kesempatan guru
sejawat sebagai pengamat, sehinggamemungkinkan guru-guru dapat membagi
pengalaman pembelajaran dengan sejawatnya.
Dikatakan juga sebagai suatu proses sistematik yang digunakan oleh guruguru
untuk menguji keefektifan pengajarannya sebagai usaha untuk
meningkatkan kualitas pembelajaran (Garfield, 2006). Proses sistematik yang
dimaksud adalah kegiatan guru yang dilaksanakan secara kolaboratif untuk
mengembangkan rencana dan perangkat pembelajaran, melakukan pengamatan
untuk mengetahui kelebihan dan kelemahan pelaksanaan pembelajaran yang
dilaksanakan, perbaikan dan refleksi yang berkelanjutan sehingga diperoleh
suatu kegiatan pembelajaran yang dapat meningkatkan kualitasnya.
MANFAAT LESSON STUDY
Terdapat dua manfaat lesson study dalam pembelajaran. Pertama merupakan
suatu cara efektif yang dapat meningkatkan kualitas pembelajaran yang dilakukan
guru dan aktivitas belajar siswa. Hal ini karena (a) dilakukan dan didasarkan
pada hasil sharing pengetahuan profesional yang berlandaskan pada praktik
Peningkatan Kualitas Pembelajaran Melalui Lesson Study Berbasis Metakognisi
127
dan hasil pengajaran yang dilaksanakan para guru, (b) tujuan utama dalam
pelaksanaan agar kualitas belajar siswa meningkat, (c) kompetensi yang
diharapkan dimiliki siswa, dijadikan fokus dan titik perhatian utama dalam
pembelajaran di kelas, (d) berdasarkan pengalaman real di kelas, dapat dijadikan
dasar untuk pengembangan pembelajaran, dan (e) menempatkan peran para
guru sebagai peneliti pembelajaran (Lewis, 2002). Kedua, kegiatan yang
dirancang dengan baik akan menjadikan guru menjadi profesional dan inovatif.
Dengan melaksanakan lesson study para guru dapat (a) menentukan kompetensi
yang perlu dimiliki siswa, merencanakan dan melaksanakan pembelajaran yang
efektif; (b) mengkaji dan meningkatkan pelajaran yang bermanfaat bagi siswa;
(c) memperdalam pengetahuan tentang mata pelajaran yang disajikan guru; (d)
menentukan standar kompetensi yang akan dicapai siswa; (e) merencanakan
pelajaran secara kolaboratif; (f) mengkaji secara teliti belajar dan perilaku siswa;
(g) mengembangkan pengetahuan pembelajaran yang dapat diandalkan; dan
(h) melakukan refleksi terhadap pengajaran yang dilaksanakannya berdasarkan
pandangan siswa dan koleganya (Lewis, 2002).
META KOGNISI
Apabila seseorang sadar tentang apa yang dipikirkan maka akan diperoleh
kemudahan untuk memantau tindakan yang akan diambil. Untuk mencapai
kesadaran diperlukan suatu proses yang akan membantu meningkatkan
pembelajaran dengan cara membimbing seseorang itu berfikir, membantu
seseorang menentukan tingkah laku yang akan diambil apabila dia mencoba
memahami sesuatu keadaan, menyelesaikan masalah dan membuat keputusan.
Metakognisi ialah kebolehan untuk mengetahui apa yang diketahui dan yang
tidak diketahui. (Costa, A.L ,1985), berpikir tentang berpikir atau belajar
bagaimana belajar (Blakey & Spence, 1990; Livington, 1997), proses berpikir
tentang berpikir mereka sendiri dalam rangka membangun strategi untuk
memecahkan masalah (O Neil&Brown,1997), berhubungan dengan berpikir
tentangberpikirmereka sendiri dan kemampuanmerekamenggunakan strategistrategi
belajar tertentu dengan tepat (Mohamad N, 2000).
Pengetahuan metakognisi merujuk pada pengetahuan umum tentang bagaimana
seseorang belajar dan memproses informasi, seperti pengetahuan seseorang
tentang proses belajarnya sendiri. mengemukakan bahwa pengetahuan
metakognitif adalah pengetahuan tentang kognisi secara umum, seperti
kesadaran-diri dan pengetahuan tentang kognisi diri sendiri (Anderson &
Volume 12 Nomor 1 Januari - Juni 2009
128
Krathwohl, 2001). Sedangkan pengetahuan tentang kognitif terdiri dari
informasi dan pemahaman yang dimiliki seseorang siswa tentang proses
berpikirnya sendiri di samping pengetahuan tentang berbagai strategi belajar
untuk digunakan dalam situasi pembelajaran tertentu (Mohamad N, 2000)
Desoete (2001) menyatakan bahwa metakognisi memiliki tiga komponen pada
penyelesaian masalah matematika dalam pembelajaran, yaitu: (a) pengetahuan
metakognitif, (b) keterampilan metakognitif, dan (c) kepercayaan metakognitif.
Pengetahuan metakognitif mengacu kepada pengetahuan deklaratif,
pengetahuan prosedural, dan pengetahuan kondisional seseorang pada
penyelesaian masalah (Veenman, 2006; Brown & DeLoache, 1978).
Keterampilan metakognitif mengacu kepada keterampilan prediksi,
keterampilan perencanaan, keterampilan monitroring, dan keterampilan evaluasi
Keiichi (2000) dalam penelitiannya tentang metakognisi menghasilkan beberapa
temuan, yakni: (a) metakognisi memainkan peranan penting dalam
menyelesaikan masalah; (b) siswa lebih terampil memecahkan masalah jika
mereka memiliki pengetahuan metakognisi; (c) dalam kerangka kerja
menyelesaikan masalah, guru sering menekankan strategi khusus untuk
memecahkan masalah dan kurang memperhatikan ciri penting aktivitas
menyelesaikan masalah lainnya; (d) Guru mengungkapkan secara mengesankan
beberapa pencapaian lebih pada tingkatan menengah di sekolah dasar di mana
hal-hal tersebut penting dalam penalaran dan strategi problem posing.
MANFAAT METAKOGNISI DALAM PEMBELAJARAN
Strategi metakognisi melibatkan proses merancang, mengawal dan memantau
proses pelaksanaan serta menilai setiap tindakan yang diambil mempunyai
peranan yang amat penting dalam proses pembelajaran, antaranya adalah:
Membantu Penyelesaian Masalah Secara Efektif
Strategi metakognisi dapat membantu pelajar untuk menyelesaikan permasalahan
melalui perancangan secara efektif (Davidson, et al.1996), melibatkan proses
mengetahui masalah, memahami masalah yang perlu dicari solusinya dan
memahami strategi yang efektif untuk menyelesaikannya. Proses tersebut
meliputi prosesmemahami permasalahan secaramenyeluruh,menterjemahkan
pernyataan masalah kepada bagian yang lebih mudah difahami, menetapkan
tujuan dan memilih tujuan yang telah diterjemahkan, memilih prinsip dan fakta
yang diperlukan untuk mencapai tujuan dan memperhatikan setiap jawaban
Peningkatan Kualitas Pembelajaran Melalui Lesson Study Berbasis Metakognisi
129
yang dikemukakan (Lee dan Fensham, 1996).
Membantu Menyusun Konsep Yang Tepat
Keberadaan berbagai kerangka alternatif menyebabkan siswa perlu berupaya
untuk merancang, memantau dan menilai setiap konsep yang disusun agar
sesuai dengan konsep yang sebenarnya. Hal ini melibatkan strategi metakognitif
dalam proses pembelajaran seperti menyadari keberadaan kerangka alternatif,
membandingkan kerangka alternatif dan konsep saintifik dan menukar kerangka
alternatif kepada konsep saintifik (Gunstone, 1995).
Memecahkan setiap konsep yang dipelajari dari sesuatu yang kompleks kepada
subkonsep yang lebih mudah, menghubungkan pengetahuan sebelumnya
terhadap konsep yang dipelajari, mengetahui teori dan prinsip yang diperlukan
untuk memahami setiap konsep yang dipelajari, menggunakan teori tersebut
dan menilai konsep yang dipelajari untuk diaplikasikan dalam situasi yang baru
merupakan strategi metakognitif yang amat diperlukan siswa untuk menyusun
konsep dengan tepat (Georghiades, 2000).
PEMBELAJARAN MELALUI LESSON STUDY BERBASIS
METAKOGNISI
Dalam implementasi lesson study terdiri atas 3 tahap, yaitu: (a). merencanakan
pembelajaran dengan penggalian akademis pada topik dan alat-alat
pembelajaran yang digunakan (plan), (b) melaksanakan pembelajaran yang
mengacu pada rencana pembelajaran dan alat-alat yang disediakan, serta
memberi kesempatan rekan-rekan sejawat untuk mengamati (do), (c)
melaksanakan refleksimelalui berbagai pendapat atau tanggapan serta diskusi
bersama pengamat (see). Kolaborasi yang dapat dilakukan adalah pada saat
pelaksanaan pembelajaran dengan menggunakan pendekatan metakognitif.
Uraian tahap pelaksanaan adalah sebagai berikut.
Tahap Perencanaan
Pada tahap ini dilakukan identifikasi masalah yang ada di kelas yang
akan digunakan untuk kegiatan lesson study dan perencanaan alternatif
pemecahannya. Identifikasi masalah dalam rangka perencanaan pemecahan
masalah tersebut berkaitan dengan pokok bahasan yang relevan dengan kelas
dan jadwal pelajaran, karakteristik siswa dan suasana kelas, metode
pembelajaran, media, alat peraga, dan evaluasi proses dan hasil belajar.
Volume 12 Nomor 1 Januari - Juni 2009
130
Dari hasil identifikasi tersebut didiskusikan tentang pemilihan materi
pembelajaran, pemilihan metode yang digunakan dalam pembelajaran ini adalah
pendekatan metakognitif. Hal yang penting untuk didiskusikan adalah
penyusunan lembar pengamatan, terutama penentuan aspek-aspek yang perlu
diperhatikan dalam suatu proses pembelajaran dan indikator-indikatornya,
terutama dilihat dari segi tingkah laku siswa. Aspek-aspek proses pembelajaran
dan indikator-indikator itu disusun berdasarkan perangkat pembelajaran yang
dibuat serta kompetensi dasar yang ditetapkan untuk dimiliki siswa setelah
mengikuti proses pembelajaran.
Selanjutnya disusun perangkat pembelajaran yaitu, rencana pembelajaran,
petunjuk pelaksanaan pembelajaran, lembar kerja siswa, media pembelajaran,
instrumen penilaian proses dan hasil pembelajara dan lembar observasi
pembelajaran.
Tahap Pelaksanaan
Pada tahap ini seorang guru yang telah disepakati, melakukan implementasi
rencana pelaksanaan pembelajaran yang telah disusun tersebut, di kelas. Pakar
dan guru lain melakukan observasi dengan menggunakan lembar pengamatan
yang telah dipersiapkan dan perangkat lain yang diperlukan. Para pengamat
mencatat hal-hal positif dan negatif dalam proses pembelajaran, terutama
dilihat dari segi tingkah laku siswa. Jika memungkinkan, dilakukan rekaman
video yang dapat mengabadikan kejadian-kejadian khusus (pada guru atau
siswa) selama pelaksanaan pembelajaran. Hasil rekaman ini berguna sebagai
bukti autentik kejadian-kejadian yang perlu didiskusikan dalam tahap refleksi
atau pada seminar hasil lesson study, di samping itu dapat digunakan sebagai
bahan diseminasi kepada khalayak yang lebih luas.
Pendekatan metakogniti dalam pembelajaran terdiri dari 3 aktivitas, yaitu (a)
proses merencanakan, guru memberikan kesempatan kepada siswa untuk
mengetahui apa yang akan dipelajari, menyediakan diri secara fisik dan mental,
membuat perencanaan untukmendapatkan suatu permaslahan yang dipelajari,
(b) proses memantau, guru memberikan kesempatan kepada siswa untuk
menanyakan kepada dirinya sendiri, apakah manfaat yang diperoleh dengan
mempelajari materi pelajaran ini, apa yang dapat saya peroleh dengan
mempelajari materi pelajaran ini, bagaimana saya dapat memahami dan
menguasai materi pelajaran ini, adakah saya dapat memahami atau tidak dapat
memahami materi pelajaran ini, (c) proses menilai, guru memberkan kesempatan
Peningkatan Kualitas Pembelajaran Melalui Lesson Study Berbasis Metakognisi
131
kepada sisw untuk menanyakan kepada dirinya, bagaimana suatu pengetahuan
dapat saya pahami, mengapakah saya merasa sukar atau mudah mengausi
materi pelajaran, adakah tindakan yang harus yang ambil. Dengan melaksanakan
ketiga tahapan tersebut guru dapat membawa siswa untuk dapat memikirkan
strategi yang lebih sesuai dalam menguasai materi pelajaran.
Tahap Refleksi
Pada tahap refleksi ini, guru yang tampil dan para pengamat serta pakar
mengadakan diskusi tentang pembelajaran yang baru saja dilakukan. Diskusi
yang dilakukan membahas dan mengkaji proses pembelajaran yang sudah
dilkasanakan yang didasarkan kepada catatan pengamat serta rekaman yang
dilakukan untuk mencari kelebihan dan kelemahan proses pembelajaran yang
dilakukan. Kelebihan atau kebaikan yang didapati dapati dijadikan diteruskan
dalam pelaksanaan, sedangkan kelemahan yang ditemui dicari solusinya agar
proses pembelajaran berjalan secara efektif. Paparan di atas dapat diringkas
sebagaimana gambar berikut:
Pelaksanaan kegiatan lesson study mencakup tiga tahap kegiatan, yaitu
perencanaan, pelaksanaan pembelajaran dan refleksi terhadap perencanaan dan
implementasi pembelajaran tersebut untuk meningkatkan kualitas pembelajaran.
Ketiga tahap tersebut adalah sebagai berikut: (a) merencanakan pelajaran melalui
Perencanaan
Pelaksanaan
Refleksi
Proses Metakognisi
Merancang Memantau Menilai
PELAKSANAAN PROSES METAKOGNISI
PELAKSANAAN LESSON STUDY
Gambar 1. Kerangka Konseptual melalui Lesson Study Berbasis Metakognitif
Volume 12 Nomor 1 Januari - Juni 2009
132
eksplorasi akademik terhadap materi ajar dan alat-alat pelajaran; (b) melakukan
pembelajaran berdasarkan rencana dan alat-alat pelajaran yang dibuat, memberi
kesempatan teman sejawat untuk mengobservasi; (c) melakukan refleksi
terhadap pelajaran melalui tukar pandangan, ulasan, dan diskusi dengan para
pengamat. Dalam implementasi program dilakukan monitoring dan evaluasi
sehingga akan diketahui efektivitas, efisiensi dan pendapat pihak-pihak yang
terlibat di dalamnya.
Sedangkan pelaksanaan proses metakognisi adalah sebagai berikut :(a) proses
merancang, dalam kegiatan ini siswa: meramal apa yang akan dipelajari, bagaimana
pelajaran yang dihadapi itu dipahami dan kesan yang akan diperoleh apabila
pelajaran itu dipelajari, menyediakan diri secara fisik, mental dan psikologi,
membuat perencanaan dari waktu ke waktu untuk mendapat sesuatu hasil
dari materi pelajaran yang dipelajari. (b) proses memantau, dalam proses
pembelajaran siswa perlu bertanya pada diri sendiri dari waktu ke waktu
tentang: adakah ini membawa manfaat kepada saya? apakah permasalahan
yang dapat saya ajukan? mengapakah saya tidak memahami materi pelajaran
ini? bagaimanakah masalah ini dapat dijelaskan? (c) proses menilai, dalam kegiatan
ini siswa membuat refleksi, apakah tindakan perubahan yang harus saya ambil?
mengapa saya sukar/mudah menguasai? bagaimana sesuatu keterampilan, nilai
dan pengetahuan dapat saya dikuasai?. Dengan pengetahuan ini siswa dapat
memikirkan strategi yang lebih sesuai untuk menguasai materi pelajaran.
PENUTUP
Lesson study adalah model pembinaan profesi pendidik melalui pengkajian
pembelajaran secara kolaboratif dan berkelanjutan berlandaskan prinsip-prinsip
kolegalitas dan mutual learning untuk membangun komunitas belajar Tahap
pelaksanaan lesson sudy meliputi perencanaan, pelaksanaan dan refleksi. Pada
tahap pelaksanaan pembelajaran dengan pendekatan metakognisi yang
mengarahkan dan membantu siswa untuk memahami dan mengetahui apa
yang telah dipahami dan mana yang belum dipahami menjadikan kegiatan
pembelajaran menjadi lebih efektif. Kegiatan pembelajaran melalui lesson study
berbasis metakognisi menjadikan guru dapat mengetahui dan menyadari
kelebihan yang dilakukan dalam pembelajaran serta menutup kelemahan dalam
pelaksanannya, demikian juga siswa dapat menyadari materi yang belum
diketahui dan materi yang sudah dipahaminya. Jika guru dapat menyadari dan
memahami kegiatan pembelajaran yang dilakukannya, demikian juga siswa
Peningkatan Kualitas Pembelajaran Melalui Lesson Study Berbasis Metakognisi
133
menyadari pemahaman terhadap materi pelajaran yang dipelajarinya, maka
kualitas pembelajaran menjadi lebih baik.
DAFTAR PUSTAKA
Akihito T & Makoto Y (2004). Ideas For Establishing Lesson Study
Communities. Teachingchildren mathematics. 436-443
Akihito T et.al (2006). Developing Good Mathematics Teaching Practice
Through Lesson Study AU: S Perspectivei Tsukuba Journal of
educational study in mathematics Vol 25.
Alexander, J., Fabricius, W., Fleming, V., Zwahr, M., & Brown, S. (2003). The
development of metacognitive causal explanations, Learning and
Individual Differences, 13, 227-238.
Andrew C. B (2008) Correcting a Metacognitive Error: Feedback Increases
Retention of Low Confidence Correct ResponsesJournal of
Experimental Psychology:Learning, Memory, andCognition 2008, Vol. 34,
No. 4, 918 928
Ari Widodo dkk (2006). Peranan Lesson Study dalam Peningkatan Kemampuan
MengajarMahasiswa Calon Guru, Bandung: UPI
Catherine L (2000). Lesson Study: The CoreOf Japanese Professional Development
Oakland : Education Department Mills College
Catherine L (2002) Lesson Study: Have A Futurein The United State Oakland :
Education Department Mills College
Claudia A G (2005) Integrating Metacognition Instruction in Interactive
Learning Environments, Unpublished Thesis Ph D. University of
Sussex
Costa, A.L., (1985). Development Mind: A Resource Book for Teaching Thinking.
Alexandria: ASCD.
Dedi S. (2003). Guru di Indonesia, Pendidikan, Pelatihan dan Perjuangannya sejak
Zaman Kolonial hingga Reformasi. Jakarta: Departemen Pendidikan
Nasional Dirjen Dikdasmen Direktorat Tenaga Kependidikan.
Dikti (2008). PanduanPenyusunanProposal:ProgramPerluasan danPenguatanLesson
Study di LPTK, Jakarta : Direktorat Ketenagaan Dirjen Dikti
Depdiknas
Volume 12 Nomor 1 Januari - Juni 2009
134
Fernadez-Duque, D., Baird, J., & Posner, M. (2000). Awareness and
Metacognition, Consciousnesand Cognition, 9, 324-326.
Fernandez, C and Yoshida, M (2004). Lesson Study A Japanese A pproach to
Improving Mathematics Teaching and Learning, London: Lawrence
Eelbaum Associted Publisher
Flavell, J. (1976). Metacognitive aspects of problem solving. In L. Resnick
(Ed), In the natrure of intelligence (on line). Available: http:/ /
www.library.www.edu/ cbl/ ray / flavell%20metacognition-
1976.htm.
Flavell, J. (1979). Metacognition and cognitive monitoring, American Psychologist,
34,906-911.
Flavell, J. (1999).Cognitive development: childrens knowledge about themind,
A nnual review of psychology ( o n l i n e ) . Available:http:/ /
www.findarticles.com/ cf_dls/ m0961/ 1999_Annual/ 54442292/
p1/article.html.
Fortunato, I., Hecht, D., Tittle, C., & Alvarez, L. (1991). Metacognition and
problem solving, ArithmeticTeacher, 39(4), 38-40.
Garofalo, J., & Lester, F. (1985). Metacognition, cognitive monitoring and
mathematicalperformance. Journal forResearchinMathematicsEducation,
16(3), 163-176.
Kevin C (1997) Strategy Discovery as a Competitive Negotiation between
Metacognitive and Associative Mechanisms, Developmental Review, 17,
462 489
Lanore DG (2008). Lesson study: implication of collaboration beetwen education specialist
and general education teachers, Thesis unpublished The Humboldt State
University
Lewis, C (2002). Lesson Study: A Handbook of Teacher-led Instructional Change,
Philadelphia: Research forBetter School
Lim C S (2003). Lesson Study Enhancing Teacher s Language Proficiency
Through Collaborative Process. ELTC ETeMS Converence 2003:
Managingcurricular change2-4December2003. Universiti Sains Malaysia
Michael l A (2006) The metacognitive loop I: Enhancing reinforcement learning
with metacognitive monitoring and control for improved
perturbation tolerance Journal of Experimental andTheoretical Artificial
IntelligenceVol. 18, No. 3, 387 411
Peningkatan Kualitas Pembelajaran Melalui Lesson Study Berbasis Metakognisi
135
Paul S (1997), Filsafat Konstruktivisme Dalam Pendidikan, Yogyakarta : Kanisius
Richard E.M (1998) Cognitive, metacognitive, and motivational aspects of
problem solving Instructional Science 26: 49 63
Schraw, G. & Sperling Dennison, R. (1994). Assessing metacognitive
awareness, Contemporary Educational Psychology, 19, 460-470.
Schraw, G. (1998). Promoting general metacognitive awareness, Instructional
Science,26, 113- 125.
Schraw, G. (2000). Issues in themeasurement of metacognition. Lincoln NE: Buros
Institute of MentalMesaurements and Erlbaum Associates.
Sperling, R., H , B. & Staley, R. (2004) Metacognition and Self-regulated Learning
Constructs, Educational Research and Evaluation, 10 (2), 117-139.
Sukirman (2009). Upaya Meningkatkan Mutu Perkuliahan pada Pergurun Tinggi
melalui Lesson Study, Proseeding Seminar Nasioanl Aljabar, Pengajaran
dan Terapannya, Yogyakarta: UNY
Sumar H, dkk (2006). Lesson Study Suatu Strategi untuk Meningkatkan Keprofesonalan
Pendidik (Pengalaman IMTEP-JICA), Bandung: UPI PRESS
Swanson, H.L. (1990) Influence of Metacognitive Knowledge and Aptitude
on Problem Solving, Journal of Educational Psychology. 82(2):306-314
Topcu, A.,& Ubuz, B. (2008). The Effects of Metacognitive Knowledge on
the Pre-service Teachers Participation in the Asynchronous Online
Forum. Educational Technology& Society, 11 (3), 1-12
Wilson (1999).Defining metacognition: A Step towords recognising
metacognitionas a worthwhile pert of the curriculum. Kertas kerja
yangdibentangkandi seminarAARE Melbourne http//:www,aare.edu.au/
99pap/ wil99527.htm
Xiaodong L (2001) Designing Metacognitive Activities, ETR&D, Vol. 49,
No. 2, pp. 23 40
Yoshida, M (1999). Lesson Study: A Case of a Japanese A pproach to Improving
InstructionThroughSchoolbasedTeacherDevelopment, Chicago: University
of Chicago
This document was created with Win2PDF available at http://www.daneprairie.com.
The unregistered version of Win2PDF is for evaluation or non-commercial use only.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar